Virgiawan Listanto

← kembali
Virgiawan Listanto

Dulu, dari kecil hingga masa SMP, musik bagiku hanyalah latar belakang yang lewat begitu saja. Aku bukan tipe orang yang sengaja memutar lagu untuk dinikmati, apalagi menyelaminya. Aku hanya mendengar tanpa benar-benar menyadari, membiarkan nada-nada itu mengalir tanpa pernah berniat menjadikannya bagian dari diri.

Jika di layar televisi diputar lagu yang sedang hits, aku ikut bersenandung. Hafal liriknya pun bukan karena suka, melainkan karena frekuensi lagu itu terdengar di mana-mana hingga tanpa sengaja menetap di ingatan.

Berbeda dengan orang-orang di sekitarku. Mereka menikmati musik dengan cara yang sungguh-sungguh; sengaja mendengarkannya lewat walkman atau ponsel jadul dengan earphone yang menyumbat telinga. Mereka mendengarnya berulang kali saat galau, menjelang tidur, bahkan saat keramas. Mereka punya musisi yang benar-benar mereka ikuti perkembangannya.

Saat itu, era kejayaan band seperti d’Masiv, Zivilia, Wali dan lain-lain sedang berada di puncaknya. Aku tahu lagu-lagu mereka, hafal setiap baitnya karena seringnya mereka muncul di TV, tapi rasanya tetap biasa saja. Tidak ada musisi yang benar-benar aku idolakan. Tidak ada satu pun melodi yang benar-benar terasa spesial bagiku.

Sampai suatu waktu, seorang teman bertanya dengan tatapan heran, “Kamu suka dengar musik apa? Kamu beneran nggak punya band atau musisi favorit?” Pertanyaan teman itu membuatku terdiam. Aku memikirkan ucapannya, dan merasa ada benarnya juga. Sejak saat itu, aku mulai mencoba mencari musisi yang karyanya benar-benar pas dengan frekuensiku.

Ibu pernah bercerita kalau waktu kecil dulu, aku sering menyanyikan lagu Sheila On 7 yang berjudul Sephia. Penasaran, aku mencoba mendengarkannya kembali, namun ternyata lagu itu tidak terlalu membuatku tertarik. Rasanya belum ketemu dengan apa yang kucari.

Pencarianku berlanjut ke folder musik yang ada di komputer Bapak. Aku memulainya dari lagu-lagu Malaysia, genre yang setiap pagi diputar oleh Ibu. Aku lumayan menyukainya, terutama lagu-lagu seperti Gerimis Mengundang dari Slam, Suci Dalam Debu milik Iklim, hingga Puteri Misteri dari Search. Tapi lagi-lagi, rasa sukaku hanya berhenti di sana. Tidak ada rasa penasaran untuk mengulik karya mereka yang lain. Aku juga mencoba mendengarkan beberapa lagu bahasa Inggris, tapi rasanya pun biasa saja.

Sampai akhirnya, aku menemukan sebuah folder bertuliskan Iwan Fals.

Awalnya aku hanya memutar beberapa lagu hitsnya yang sudah umum kuketahui. Namun, rasa penasaran membawaku untuk memutar lagu-lagu yang belum pernah kudengar sebelumnya. Di sanalah aku akhirnya menemukan sesuatu yang berbeda. Aku suka. Banyak sekali lagu dari Iwan Fals yang langsung nyangkut di kepalaku. Lirik kritiknya keren dan tajam, ditambah musikalitasnya yang terasa unik di telingaku.

Untuk pertama kalinya, aku tidak sekadar mendengar; aku mulai menyimak.

Aku mulai tergila-gila dengan Iwan Fals. Rasa penasaranku membawaku untuk mengulik biografinya, sampai aku tahu kalau nama aslinya adalah Virgiawan Listanto. Namanya terdengar sangat keren bagiku, sampai-sampai aku mengganti nama belakang akun Facebook-ku dengan nama itu. Ya, tingkah anak SMP pada masanya.

Mulai dari titik itulah, aku mendengarkan musik dengan cara yang benar-benar berbeda. Aku mulai menyimak setiap lapisan nadanya dan meresapi makna liriknya. Karena saat itu internet masih jarang dan lirik lagu tidak bisa dicari dengan sekali klik, aku menuliskan liriknya secara manual. Aku mendengarkannya sedikit demi sedikit sambil memegang pena, lalu memutar balik audionya jika ada kata yang tidak terdengar jelas. Begitu terus berulang-ulang sampai satu lagu utuh tersalin di kertas.

Musik bukan lagi sekadar suara yang lewat atau lirik yang hafal karena tidak sengaja terdengar di mana-mana. Musik menjadi sesuatu yang sengaja aku masuki dan kunikmati.

Seperti yang pernah kutulis di halaman Resonansi: musik adalah mesin waktu paling jujur. Sekarang, di fase dewasa ini, setiap kali aku memutar lagu Iwan Fals, aku seketika terlempar kembali ke masa itu. Aku teringat saat-saat duduk sendiri di depan komputer Bapak, di sebuah ruangan yang dulunya gudang penyimpanan beras dan sekarang sudah berubah menjadi dapur.

Aku bisa mengingat kembali rasanya memakai earphone lewat ponsel jadul hingga tertidur pulas, lalu Ibu datang melepaskannya dari telingaku setelah aku terlelap. Aku teringat saat rumah sedang kosong, aku memutar lagu-lagu itu keras-keras dan ikut bernyanyi sepuas hati. Ingatan itu, aroma ruangannya, suasananya, semuanya muncul kembali setiap kali frekuensi lagu Iwan Fals menyentuh telingaku.